Laman

Rabu, 22 Desember 2010

Rumah Klasik


Gaya klasik diterapkan dengan baik di rumah ini.  Dimulai dari cornice ceiling dinding,  furnitur, lantai marmer hingga ambience ruangan. Uniknya, arsitektur klasik yang biasanya tampil dingin dan angkuh, terkesan lebih bersahabat.

Di sebuah siang, pemilik rumah menuangkan kenangannya begini: ”Saya melihat sebuah bangunan  klasik di Beverly Hills, Amerika. Bagus sekali. Saya ingin punya rumah seperti itu.” Itulah awal  ketertarikannya terhadap rumah bergaya klasik. Setibanya di tanah air, ia pun segera menghubungi  seorang arsitek. Kebetulan sebidang tanah dengan view lapangan golf telah dimilikinya.  Piter Gan, arsitek yang dihubungi, mendesainkan sebuah bangunan klasik yang hangat.   

Rumah impian itu pun berdiri dan sudah ditempati. Seperti bangunan klasik umumnya, pada fasade depan memiliki pilar-pilar yang tinggi. Dari luar, 2 tiang bulat yang menopang canopy driveway ini, menjadi point of interest bangunan. Demikian juga dengan peletakan desain relief batu paras yang grand di bagian samping bangunan, di sebelah ruang keluarga dan ruang tidur utama. Lalu pada fasade belakang, bukaan jendela yang lebar dengan kaca frameless, memaksimalkan pandangan ke hamparan hijau padang golf.

Sementara di dalam rumah, displin klasik diterapkan arsiteknya dengan meneruskan tradisi penggunaan doom yang megah. Kubah ini sebagai penegasan terhadap pusat bangunan, tampil mewah dengan warna kuning yang elegan. Pemakaian material alabaster di area sudut dome, memberikan keunikan tersendiri. Dan sebagai pusat pada bangunan ini adalah ruang keluarga. Menariknya, ruang per ruang  di dalam rumah ini diatur dalam komposisi simetri. Kamar tidur yang terletak di bagian kanan-kiri pusat-ruang keluarga, kawasan publik --ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan -- yang diatur menerus dari depan ke belakang mengikuti panjang bangunan.

Menariknya, dalam proses desain detail bangunan, pemilik rumah berperan cukup banyak. Misalnya saja soal keserasian antar material, kewajaran harga jenis material yang dipilih sampai pada pemilihan warna dan motif marmer yang akan dipasang. Marmer dan granit impor pada fasade bangunan depan dan lantai adalah contoh keterlibatan pemilik rumah dalam menentukan material yang dipilih.   

Pilihan pada material impor, jelas memunculkan kesan mewah pada bangunan. Apalagi sejak awal merancang, konsep interiornya didesain bersamaan. Kebutuhan ruang-ruang utama menjadi prioritas utama untuk lebih memaksimalkannya. Setiap sudut dari ruangan utama misalnya, diolah sedemikian rupa sehingga menjadi ruangan yang bisa maksimal secara fungsi dan indah untuk dilihat. Demikian juga dengan koneksitas antara ruangan yang satu dengan lainnya.

Seperti halnya desain detail bangunan, sentuhan personal pemilik pun menjadi acuan utama dalam merancang seluruh ornamen dan perabot yang ada di dalam rumah. 

”Supaya selaras dengan ruang-ruangnya, semua perabot didesain dan dibuat khusus di sebuah workshop di Jakarta. Setelah jadi, untuk membanya ke Surabaya saya membutuhkan total 36 truk”, beber pemilik rumah. Adalah Hanky Tandayu, seorang designer interior dari Jakarta,  yang mengerjakan semua furnitur dan dekorasi  rumah ini.

Sebagai pendekor rumah, Hanky  bekerja sangat teliti. Furnitur mulai dari sofa, meja makan, bed set, hingga gorden, karpet, wallpaper serta pernak-pernik yang dipilih, semuanya disesuaikan dengan warna ruangan. Ruang duduk di lantai 2 yang dinamakan chinese room misalnya, daripada memakai warna merah yang identik dengan kultur China, pemilik rumah dan sang designer interior memilih warna hijau dan kuning yang lembut dengan hiasan bunga-bunga kecil. Lalu barang-barang kuno seperti tusuk konde dan cangkir teh yang dibingkai rapi di dinding, melengkapi detail pada interior ruang.

Konsistensi gaya dan harmoni antara arsitektur dan interior jelas diupayakan sejak perencanaan awal rumah, hingga saat penataannya. Arsiteknya pun merancang rumah ini from head to toe, dari bentuk terluar hingga detail terkecil. Dengan begitu terjadi kesesuaian antara bentuk yang ada di luar dan di dalam, baik dari sisi warna, detail hingga komposisi.

Hanya saja, supaya kesan klasik  tidak terlalu berat seperti rumah klasik kebanyakan, ornamen-ornamen klasik yang dipilih disesuaikan dan disederhanakan. Hasilnya adalah sebuah desain yang lebih simpel tanpa menghilangkan nilai dari klasiknya.

Mengenai pendekatan arsitek Piter Gan terhadap keinginan klien dan solusi yang diajukan dalam proses perancangan dapat dilihat pada majalah Indonesia Design edisi 31/2009 Luxury Homes yang menampilkan 8 beautiful dream houses dalam gaya klasik, minimais, dan moden tropis.

Sumber : INDONESIA DESIGN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar